Palangkaraya, kaltengread – Lautan asap tebal berwarna keabu-abuan merayap pelan, melahap deretan pepohonan dan menutupi langit Kota Palangka Raya. Udara terasa berat, menyengat di tenggorokan, sementara hawa panas dari terik matahari dan kobaran api dari kebakaran hutan dan lahan seakan memanggang Bumi Tambun Bungai.
Di tengah abu yang beterbangan dan jarak pandang yang makin menyempit, bayangan beberapa orang mulai terlihat. Mereka membelah pekatnya kabut, melangkah pasti mendekati titik-titik api yang terus membesar.
Senjata mereka sederhana: rompi kuning terang khas Pekerjaan Umum yang tampak kontras di antara jelaga, masker pelindung yang menempel ketat di wajah, serta peralatan pemadam seadanya.
Mereka bukan pasukan pemadam kebakaran biasa. Mereka adalah para personel Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Provinsi Kalimantan Tengah yang memilih meninggalkan sejenak meja kerja dan proyek demi turun ke garis terdepan bencana.
Hawa panas yang menyengat tak menyurutkan langkah para petugas ini. Setiap hembusan napas di balik masker menjadi pertaruhan, namun pandangan mereka tetap fokus menundukkan si jago merah.
Tak ada keraguan dalam gerak-gerik mereka. Semangat itu terpancar nyata, sesegar dan sejelas prinsip kerja yang selalu mereka pegang teguh: “Bekerja Keras, Bergerak Cepat, Bertindak Tepat”.
Aksi tanggap darurat ini membuktikan sesuatu yang jauh lebih besar. Dinas PUPR Kalteng menunjukkan bahwa tugas mereka bukan cuma tentang merancang jembatan, mengecor jalan, atau membangun gedung-gedung megah. Lebih dari sekadar urusan infrastruktur fisik, ada tanggung jawab kemanusiaan yang mereka usung.
Saat bencana melanda dan masyarakat membutuhkan pertolongan, mereka siap pasang badan, menjelma menjadi benteng pertahanan yang responsif demi menjaga keselamatan warga Kalimantan Tengah. (Y5/red).
