Palangkaraya, kaltengread – Pagi ini, Senin (28/9/2026), langit Kota Palangka Raya enggan menampakkan kecerahannya. Kabut asap yang pekat menggelayut rendah di atas kota, membawa aroma sangit yang menusuk hidung.
Bagi siapa saja yang nekat beraktivitas di luar, jerebu pagi itu menyisakan perih yang tak tertahankan di mata. Palangka Raya sedang tidak baik-baik saja secara ekologis.
Namun, pemandangan kontras tersaji di dalam ruangan Kantor DPW Ikatan Penulis Jurnalis Indonesia (IPJI) Kalimantan Tengah. Di balik dinding-dinding ruangan itu, pengapnya udara luar seolah kalah oleh riuh rendah diskusi dan pancaran antusiasme puluhan jurnalis.
Hari itu, para kuli tinta yang biasanya sibuk berburu berita di lapangan, berkumpul bukan untuk mengejar narasumber. Tergabung dalam DPD Serikat Pers Republik Indonesia Kalteng (SPRI) dan DPW IPJI Kalteng, mereka sepakat untuk mengambil peran yang lebih jauh: melompat dari sekadar pencatat peristiwa, menjadi motor penggerak perubahan di masyarakat.
Suasana mendadak hening ketika para insan pers ini secara serentak menggenggam gawai mereka. Ruangan yang tadinya bising berubah menjadi ruang kelas yang dinamis.
Di bawah bimbingan langsung dari tim Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kota Palangka Raya, jemari para jurnalis dengan lincah berselancar di layar ponsel, melakukan aktivasi Identitas Kependudukan Digital (IKD).
Langkah ini bukanlah formalitas seremonial belaka. Para jurnalis ini sengaja menempatkan diri mereka di garis depan sebagai pionir.
Mereka ingin merasakan sendiri pengalaman menembus menu-menu di aplikasi IKD, mengalami langsung bagaimana rasanya bertransisi dari dokumen fisik yang rawan hilang menuju format digital yang praktis.
Melalui pengalaman langsung tersebut, edukasi yang nantinya mengalir melalui pena dan ketikan berita mereka ke masyarakat akan terasa lebih hidup, akurat, dan membumi.
Melihat gairah yang menyala di ruangan itu, Kepala Disdukcapil Kota Palangka Raya, Alman Pakpahan, tidak tinggal diam. Ia hadir langsung di lokasi, memotong segala belitan jalur birokrasi yang biasanya kaku dan formal.
Kehadiran sang kepala dinas memastikan proses aktivasi berjalan cepat, responsif, dan tanpa hambatan, sebuah simbol kolaborasi yang manis antara pembuat kebijakan dan penyebar informasi.
Sementara Sekretaris DPD SPRI Kalteng, Rizaldi, sempat berbagi refleksi. Baginya, inovasi teknologi yang digagas pemerintah akan menjadi sia-sia jika hanya berdiri di atas menara gading. Tanpa adanya pemahaman yang merata di akar rumput, digitalisasi hanyalah slogan kosong yang tertulis di baliho-baliho kota.
“Semakin banyak teman-teman jurnalis yang aktivasi IKD, maka program ini akan cepat terealisasi di Kota Palangka Raya,” ucap Rizaldi dengan nada optimis.
Di tengah kepungan asap yang menjepit Kota Palangka Raya, pers Kalimantan Tengah telah membuktikan peran mereka membuka jalan lewat literasi digital untuk mempercepat transformasi pelayanan publik yang inklusif.
Waktu bergulir menuju siang, kabut asap mungkin belum sepenuhnya hilang dari langit Palangka Raya. Namun, di tangan para jurnalis, masa depan pelayanan publik yang melek digital tidak lagi terasa jauh dan mengawang-awang.
Masa depan itu kini telah nyata, ada di dalam genggaman tangan mereka. (Y5/red).
