Palangkaraya, kaltengread – Aroma sangit sisa kebakaran hutan masih pekat menggantung di udara Kota Palangka Raya. Di ruang-ruang kelas SMA dan SMK, riuh tawa siswa belakangan mengencang lebih cepat. Jam pelajaran dipangkas habis, dari 45 menit menjadi hanya setengah jam. Upacara bendera ditiadakan, dan pintu-pintu kelas ditutup rapat demi menghalau kabut asap yang kian hari kian menebal. Di sudut Unit Kesehatan Sekolah (UKS), tabung-tabung oksigen berdiri tegak, bersiap menyuplai napas bagi dada-dada muda yang sesak.
Semua pembatasan itu tertuang jelas dalam selembar surat bernomor 400.3.1/4480/Disdik.PSMK.01/2026. Surat yang dirilis Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Tengah (Disdik Kalteng) pada 18 Agustus 2026 itu menjadi tameng pelindung. Kepala Dinas, Muhammad Reza Prabowo, secara sadar menginstruksikan jajarannya untuk memarkir siswa di dalam ruangan. Logikanya sederhana: kesehatan anak-anak di atas segalanya.
Namun, sepuluh hari berselang, logika itu mendadak bias. Tepat pada Jumat, 28 Agustus 2026, surat baru berkop sama kembali mendarat di meja-meja kepala sekolah. Isinya mengejutkan: sekolah diminta mengerahkan para siswa untuk memadati kawasan Bundaran Besar Talawang pada Sabtu (29/8/2026) malam. Agendanya adalah menghadiri peluncuran Tim Sepakbola Isen Mulang. Sebuah acara ruang terbuka, di malam hari, tepat di jantung kota yang udaranya sedang tidak baik-baik saja.
Kontradiksi ini memicu tanya di benak publik. Di satu sisi, siswa dilindungi secara ketat dari paparan asap siang hari di sekolah. Di sisi lain, mereka justru diorganisir untuk menembus kabut asap malam hari demi sebuah seremonial olahraga. Kedua instruksi yang saling bertolak belakang ini lahir dari pena orang yang sama: Muhammad Reza Prabowo.
Mendukung tim sepak bola daerah tentu merupakan pemantik semangat yang positif bagi generasi muda. Namun, ketika kerumunan massa siswa diwajibkan hadir di ruang terbuka saat indikator kualitas udara berkedip berbahaya, prioritas keselamatan pun dipertanyakan.
Publik kini menanti jawaban otentik dari Disdik Kalteng. Apakah ada jaminan medis? Ataukah ada protokol masker ketat yang disiapkan di lokasi acara?
Malam ini, di bawah lampu Bundaran Besar Talawang, riuh dukungan untuk Tim Isen Mulang akan menggema. Bersamaan dengan itu, ada kabut tebal yang menyelinap ke paru-paru para peserta didik, mengingatkan semua orang bahwa konsistensi kebijakan sering kali kalah di bawah panggung seremonial. (Y5/red).
