Palangkaraya, kaltengread – Riuh rendah jagat digital seringkali mengubah layar ponsel menjadi panggung perdebatan tanpa batas. Di Palangka Raya, dinamika penyampaian aspirasi publik di media sosial kian hari semakin meninggi.
Fenomena tersebut memantik perhatian mendalam dari Yanto E. Saputra, Koordinator Forum Kebangsaan Ormas, Paguyuban, dan Kerukunan Kalimantan Tengah.
Pada siang yang hangat di ibukota provinsi, Rabu (9/9/2026), Yanto berbagi pandangan penting tentang bagaimana seharusnya masyarakat mengelola kebebasan bersuara.
Bagi Yanto, ruang publik yang sehat adalah ruang yang tidak tabu terhadap perbedaan pendapat. Ia menegaskan dengan lugas bahwa pemerintah, pejabat publik, tokoh masyarakat, hingga organisasi sama sekali tidak boleh bersikap anti-kritik. Kritik, bagaimanapun, adalah vitamin bagi sebuah demokrasi yang bertumbuh.
Namun, kebebasan yang kebablasan di ruang digital acap kali melupakan satu jangkar penting: etika dan tanggung jawab moral.
Ada kecenderungan yang mengkhawatirkan belakangan ini. Demi mengejar angka views, popularitas sesaat, atau sekadar membuat konten menjadi viral, kehormatan sesama manusia kerap diabaikan. Arena diskusi yang seharusnya melahirkan solusi, bergeser menjadi panggung penghakiman massal.
“Kritik semestinya diarahkan pada kebijakan, keputusan, tindakan, maupun kinerja yang menjadi objek perdebatan. Kritik tidak seharusnya merambah kehidupan pribadi, apalagi menyeret anggota keluarga yang tidak berkaitan dengan persoalan yang sedang dibahas,” ujar Yanto dengan nada getir namun tegas.
Yanto juga mengingatkan, bahwa esensi dari sebuah kritik adalah perbaikan, bukan pembunuhan karakter. Kritik yang sehat tidak lahir dari rahim provokasi atau caci maki, melainkan dari kedalaman berpikir dan argumentasi yang solid.
Ada formula sederhana namun mendalam yang ia tawarkan kepada netizen dan masyarakat luas dalam berpendapat: Kritik dengan data. Bantah dengan fakta. Sampaikan dengan bahasa yang santun.
Di tengah riuhnya arus informasi, Yanto mengajak seluruh elemen masyarakat untuk sejenak menengok kembali ke akar budaya mereka.
Kalimantan Tengah, yang dikenal sebagai Bumi Tambun Bungai, memiliki warisan leluhur yang luar biasa dalam merawat keberagaman, yaitu filosofi Huma Betang.
Rumah besar yang melambangkan kebersamaan, toleransi, dan rasa saling menghormati ini harus tetap menjadi fondasi hidup bersama, termasuk dalam berinteraksi di dunia maya.
Menjaga persatuan dan kedamaian tidak berarti membungkam suara-suara kritis. Justru di dalam rumah besar bernama Huma Betang itu, diskusi dan perbedaan pendapat diucapkan dengan penuh martabat.
Sebab pada akhirnya, kebebasan berbicara adalah hak, namun menjaga kehormatan sesama adalah kewajiban.
Seperti yang disampailan Yanto, kritik yang baik tidak pernah bertujuan untuk menjatuhkan atau menghancurkan seseorang, melainkan menjadi kompas yang menuntun menuju perbaikan bersama. (Y5/red).
