Palangkaraya, kaltengread – Gemuruh mesin sepeda motor mendadak senyap saat jarum jam mendekati pukul empat sore di kawasan Lampu Merah Yos Sudarso-Thamrin, Palangka Raya. Sore itu, Kamis, 3 September 2026, langit ibu kota Kalimantan Tengah tampak temaram, bukan karena matahari hendak terbenam, melainkan akibat kepungan kabut asap pekat yang kian hari kian mencekik napas kota.
Di tengah abu dan udara berbahaya yang menusuk dada, sekelompok pengendara wanita yang tergabung dalam komunitas Ladies Bikers Palangka Raya memilih tidak tinggal diam. Mereka melepas penat, turun ke jalan, dan mengubah kepedulian menjadi aksi nyata melalui gerakan sosial bertajuk “Peduli Kabut Asap”.
Begitu lampu lalu lintas berganti merah, para wanita tangguh ini dengan sigap menghampiri para pengguna jalan. Tangan-tangan mereka dengan lembut menyodorkan masker gratis kepada para pengendara motor, pejalan kaki, dan warga yang terpaksa beraktivitas di luar ruangan. Senyum di balik masker mereka menjadi pemandangan hangat di tengah pekatnya jerebu.
“Inisiatif ini lahir murni dari rasa prihatin kami melihat kondisi kesehatan masyarakat saat ini,” ujar Wiwin, Ketua Ladies Bikers Palangka Raya di sela-sela kegiatan.
Tujuannya hanya ingin membentengi sesama warga dari dampak buruk menghirup udara berbahaya. Setidaknya, selembar masker bisa menjadi pelindung pertama bagi napas mereka.
Aksi simpatik ini tidak berjalan sendirian. Gerakan tulus Ladies Bikers Palangka Raya berhasil mengetuk pintu kepedulian berbagai pihak. Dukungan pun mengalir dari Palangkaraya Project, Media Online Kalimantan Raya dan Lintas Kalimantan, hingga Top 1, yang bahu-membahu menyukseskan pembagian masker gratis tersebut hingga selesai.
Melalui deru motor dan lembaran masker yang dibagikan, Ladies Bikers Palangka Raya tidak hanya sedang memutus rantai dampak buruk kabut asap. Mereka juga mengirimkan pesan kuat kepada seluruh lapisan masyarakat: bahwa di tengah udara yang sedang tidak baik-baik saja, kewaspadaan dan solidaritas harus tetap menyala. (Y5/red).
