Palangkaraya, kaltengread – Matahari di atas langit Kalimantan Tengah belakangan ini terasa lebih menyengat. Sejak awal September, lanskap Bumi Tambun Bungai dilingkupi warna abu-abu. Debu dan kepulan asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) beterbangan di udara, menyesakkan dada.
Di saat yang sama, sumur-sumur warga dan sungai mulai mengering, menyisakan tanah retak yang tak lagi mampu mengalirkan kehidupan.
Bagi masyarakat di beberapa kabupaten/kota, hari-hari ini adalah ujian yang berat. Mereka tidak hanya harus bertarung melawan kabut asap yang mengancam kesehatan, tetapi juga harus memutar otak demi mendapatkan setetes air bersih untuk minum, memasak, dan membersihkan diri.
Namun, di tengah cekaman kekeringan itu, secercah harapan datang beriringan dengan gemuruh mesin truk-truk tangki air.
Dibawah instruksi Gubernur, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kalimantan Tengah, Juni Gultom, mengungkapkan bahwa gerak kemanusiaan tersebut telah berlangsung intensif sejak 1 September lalu.
“Kami telah menyalurkan sebanyak 1,5 juta liter air bersih ke beberapa kabupaten/kota yang paling terdampak kekeringan dan karhutla,” ujar Juni.
Angka 1,5 juta liter bukan sekadar statistik di atas kertas. Bagi warga pelosok kabupaten/kota yang berhari-hari menatap ember-ember kosong mereka, angka itu adalah wujud nyata dari kehadiran pemerintah di saat mereka paling membutuhkan.
Setiap tetes air yang mengalir dari selang tangki Dinas PUPR langsung menghapus kecemasan yang menggelayuti wajah-wajah para ibu dan lansia di posko-posko bantuan.
Aksi tanggap darurat ini memicu gelombang rasa syukur dari masyarakat bawah. Di tengah situasi sulit, kehadiran bantuan yang cepat dan tepat sasaran menjadi bukti kepekaan seorang pemimpin.
Masyarakat pun menyampaikan apresiasi mendalam kepada Gubernur Kalimantan Tengah, H. Agustiar Sabran. Bagi warga, sang pemimpin telah menunjukkan kepedulian yang tulus dan memahami betul jeritan hati masyarakat yang sedang terhimpit bencana ganda: kekeringan dan karhutla.
Bantuan air bersih ini bukan sekadar pemadam dahaga fisik, melainkan juga penyejuk bagi hati masyarakat yang sempat cemas.
Perjuangan melawan karhutla dan kekeringan di Kalimantan Tengah memang belum usai, namun dengan gotong royong dan kepedulian yang nyata, masyarakat tahu mereka tidak sedang berjuang sendirian. (Y5/red).
