Palangkaraya, kaltengread – Yanto Eko Saputra resmi menakhodai Forum Kebangsaan Organisasi Kemasyarakatan (Ormas), Paguyuban, dan Kerukunan Kalimantan Tengah (Kalteng) setelah terpilih secara aklamasi dalam Musyawarah Besar (Mubes) Tahun 2026. Penetapan yang berlangsung di Ballroom Aurila Hotel, Palangka Raya, pada Minggu (6/9/2026) ini menjadi babak baru bagi persatuan di Bumi Tambun Bungai.
Mubes kali ini memikul misi penting untuk mengisi kekosongan kepemimpinan setelah koordinator sebelumnya berpulang. Sebanyak 105 ormas, paguyuban, dan kerukunan pemilik hak suara resmi melekatkan mandatnya kepada Yanto. Kehadiran figur pemimpin baru ini diharapkan mampu mengembuskan kembali napas kehidupan pada forum yang sempat vakum tersebut.
Langkah Yanto menuju kursi kepemimpinan terbilang responsif. Ketua Panitia Mubes, Tomu Sibarani, mengungkapkan bahwa pergelaran ini dipersiapkan dalam waktu yang sangat singkat, hanya sejak diterimanya Surat Keputusan Pembentukan Panitia dari Pembina Forum pada 25 Agustus 2026 lalu. Namun, keterbatasan waktu tidak menyurutkan optimisme.
Tomu menekankan agar di bawah nakhoda baru, forum mampu memposisikan diri sebagai mitra strategis sekaligus kritis bagi pemerintah daerah. Ia berharap setiap keputusan yang lahir di masa depan dibangun secara akademis, bernarasi teknokratis, dan berlandaskan pemikiran yang matang.
Berdiri di hadapan ratusan perwakilan organisasi se-Kalteng, Yanto langsung menggaungkan visi besar. Ia berkomitmen menjadikan Forum Kebangsaan Kalteng sebagai wadah yang solid, inklusif, harmonis, dan berintegritas. Kendati demikian, Yanto dengan kerendahan hatinya menegaskan bahwa amanah besar ini tidak bisa ia pikul sendirian, melainkan sebuah tanggung jawab kolektif.
“Saya menyadari tidak mungkin bisa bekerja sendiri. Saya sangat membutuhkan peran serta, dukungan, kerja sama, kritik, serta saran dari seluruh ormas, paguyuban, dan kerukunan,” ujar Yanto.
Guna mengejawantahkan visi tersebut, Yanto langsung merumuskan enam misi strategis. Fokus utamanya mencakup penguatan persatuan lewat komunikasi terbuka, pemeliharaan nilai kebangsaan seperti toleransi dan gotong royong, serta pembentukan ruang diskusi konstruktif yang mampu melahirkan program kerja nyata yang berdampak langsung bagi masyarakat luas.
Tantangan bagi kepemimpinan Yanto ke depan juga ditegaskan oleh pembina Forum Kebangsaan Kalteng, Brigjen Pol (Purn) Andreas Wayan Wisaksono, S.I.K. Sang pembina mengingatkan pentingnya peran forum dalam menjaga keharmonisan di tengah keberagaman Kalteng.
Yanto dan jajarannya dituntut mampu mencegah gesekan sosial dengan selalu memegang teguh filosofi Huma Betang serta kearifan lokal Dayak sebagai fondasi utama dalam kehidupan bermasyarakat. (Hans/red).
