Palangkaraya, kaltengread – Di bawah terik matahari yang menyengat, kepulan asap abu-abu membubung tinggi, menyelimuti hamparan lahan di Kelurahan Petuk Katimpun, Kecamatan Jekan Raya, Kota Palangka Raya. Suara gemeretak ranting kering yang dilalap api berkejaran dengan deru mesin pompa.
Di garis depan, para petugas pemadam kebakaran dan relawan terus berkejaran dengan waktu, menahan laju amukan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kian meluas.
Di tengah situasi genting tersebut, air menjadi komoditas paling berharga. Menyadari kebutuhan yang mendesak ini, Pemerintah Kota Palangka Raya bersama instansi lintas sektor bergerak cepat. Sebuah langkah taktis diambil: membangun infrastruktur darurat berupa tiga unit sumur bor tepat di jantung area yang terancam.
Pada Kamis (27/8/2026), Plt. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palangka Raya, Hendrikus Satriya Budi, turun langsung ke lapangan. Di bawah pengawasannya, deru mesin bor mulai melubangi tanah, mencari urat air yang akan menjadi senjata utama melawan api.
Proyek penyelamatan lingkungan ini merupakan buah sinergi nyata, bantuan langsung dari Kodam XXII/Tambun Bungai untuk mendukung perjuangan para satgas di tengah kepungan api.
“Pembangunan tiga sumur bor tersebut merupakan bantuan dari Kodam. Bantuan ini menjadi bagian dari dukungan lintas instansi dalam menghadapi kebakaran lahan yang masih terjadi di wilayah tersebut,” ujar Budi di sela-sela peninjauannya.
Strategi penempatan sumur bor ini tidak sembarangan. Setiap titik dipilih secara presisi untuk memotong pergerakan api. Satu unit sumur bor dibangun di wilayah RT 002. Sementara dua unit lainnya dipancangkan di Jalan AMD, satu di bagian tengah koridor lahan dan satu lagi di bagian ujung, mendekati perimeter Jalan Raflesia.
Kehadiran tiga sumur bor ini menjadi prioritas mutlak. Air yang disemburkan nantinya tidak hanya disiramkan ke lidah-lidah api yang menyala, melainkan juga digunakan untuk membasahi lahan di sekitarnya. Metode penyekatan (sekat bakar) ini krusial agar bara api tidak melompat dan melumat vegetasi kering yang lebih luas.
Bagi para petugas damkar dan relawan yang bertaruh nyawa di lapangan, sumur bor ini adalah sebuah berkah. Selama ini, waktu mereka sering habis terkuras untuk bolak-balik mencari sumber air yang jauh. Kini, dengan adanya pasokan air yang melimpah dan dekat dari titik api, jalur evakuasi air berhasil dipangkas.
“Dengan adanya sumur bor ini, personel damkar dan relawan lebih mudah melakukan pemadaman. Sumber air yang tersedia dari sumur bor cukup melimpah,” tegas Budi dengan optimisme tinggi.
Melalui fasilitas darurat ini, Pemerintah Kota Palangka Raya menaruh harapan besar. Di tengah ancaman kabut asap yang siap mengintai paru-paru kota dan melumpuhkan ekosistem, sumur bor di Petuk Katimpun menjadi simbol perlawanan dan gotong royong demi mengembalikan hijaunya bumi Tambun Bungai. (Y5/red).
