Kuala Kapuas, kaltengread – Asap tipis mulai membayang di atas langit Kecamatan Selat, Kabupaten Kapuas. Di bawahnya, hamparan lahan mengering disengat terik, menjelma hamparan bahan bakar yang retak dan haus akan percikan sekecil apa pun. Di musim seperti ini, batas antara ketenangan dan bencana kerap kali hanya sejauh sebatang puntung rokok yang terlempar tanpa sengaja.
Perkara sepele, memang. Namun di tanah yang sedang meranggas, bara sekecil ujung jari mampu menjalar diam-diam, melahap semak belukar, hingga menjelma lidah api yang tak lagi sanggup ditiup padam.
Risiko membayang inilah yang menusuk kesadaran Camat Selat, Rio Adrianto. Ketika status bahaya kebakaran hutan dan lahan mendaki hingga titik ekstrem, ia memilih menyapa warganya bukan sekadar dengan tumpukan aturan formal, melainkan dengan ketegasan yang berbalut empati.
“Jangan pernah memberi kesempatan sedikit pun kepada api,” bisik imbauan yang terus digaungkan ke tiap sudut desa dan kelurahan.
Bagi Rio, kebakaran hutan bukan sebatas kalkulasi berapa hektar pepohonan yang hangus ditelan jelaga. Ceritanya jauh lebih kelam dari itu. Ketika api membesar, ia melahirkan kabut asap pekat yang merayap tanpa permisi, menembus dinding-dinding rumah warga yang bahkan tak pernah menyentuh korek api.
Napas anak-anak menjadi berat, langit biru meredup, dan roda kehidupan warga seketika lumpuh. Alam yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk tumbuh rindang, sanggup runtuh dan menyisa abu hanya dalam hitungan jam.
Pencegahan, tegas Rio, bukanlah panggung milik petugas pemadam kebakaran atau pemerintah semata. Benteng terkuat justru berdiri di atas kesadaran paling sederhana dari setiap warga: menahan jemari agar tak membakar lahan sembarangan, serta memastikan tak ada sisa api atau puntung rokok yang ditinggalkan dalam keadaan bernyawa.
Melalui langkah-langkah kecil itulah, sebuah helatan besar bernama masa depan sedang dipertaruhkan.
“Jaga hutan, jaga masa depan,” ujar Rio Adrianto.
Kalimat itu berhembus bukan sekadar sebagai slogan pemanis spanduk di tepi jalan. Ia adalah pengingat bahwa Kecamatan Selat hari ini tidak sedang memanggil keberanian spektakuler para pahlawan pemadam di tengah kobaran api yang membubung tinggi.
Yang dibutuhkan saat ini jauh lebih sunyi, namun menentukan: keberanian tiap individu untuk menjaga diri dan memadamkan niat sebelum api sempat bernapas menjadi bencana. (Y5/red).
